Maa syaa Allah, tabarakallah.

Belajar tentang komunikasi dengan pasangan menjadi moment paling seru bagi kami. Kami memiliki semangat untuk mengupgrade dan memperbaiki bab ini. Kami memiliki pengalaman dan pelajaran yang sangat besar dan melelahkan soal bab ini hingga kami sempat batal nikah sebelumnya dan kembali dipertemukan 3 tahun kemudian hingga sekarang, Alhamdulillah.

Dan kami sangat bersyukur dulu kami sempat mengalaminya, karena dengan mutiara pembelajaran dari semua kejadian itu kami bisa berada di kondisi sebaik sekarang.Β  Semoga kami bisa membina keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah. aamiin.

Well, komunikasi kami sejauh ini, tentu saja dipengaruhi oleh FoR (Frame of Reference) dan FoE (Frame of Experience) kami yang jauh berbeda bahkan cenderung bertolak belakang hehe. Terkait hal itu ada 3 jenis ego yang kami miliki dan mewarnai pola komunikasi kami. lantas 3 ego itu mana yang paling sering muncul selama kami berkomunikasi?

Kami mencoba mengukurnya dari intensitas kami sebagai berikut :
30% Ego sebagai orang tua (Faktor Eksteropsikis)
Dalam state ego ini, kami didominasi sikap Nurturing Parent (NP) 75%, sementara sikap Critical Parent (CP) 25%.

30% Ego sebagai anak-anak (Faktor Arkeopsikis)
Dalam state ego ini kami didominasi sikap natural child (NC) 75% *terutama saya hehe, sisanya sikap adapted child (AC) 25%

40% Ego sebagai orang dewasa (Faktor Neopsikis). Saya paling bahagia kalau sudah berada di state ego ini. Saya seperti sedang hidup sepenuhnya. Sikap yg objektif, stabil, tidak emosional, rasional, logis, tidak menghakimi, berkerja dengan fakta dan kenyataan-kenyataan, selalu berusaha untuk menggunakan informasi yang tersedia untuk menghasilkan pemecahan yang terbaik dalam pemecahan berbagai masalah.

Sementara itu untuk analisis transaksi komunikasi yang sering kami alami adalah transaksi komplementer (90%). Alhamdulillah, transaksi komplementer ini kami capai meski dalam jenis sikap ego kami yang berbeda.Β  Seringnya antara sikap anak-anak – sikap orang tua, atau sikap anak-anak dengan sikap anak-anak lagi (terutama ketika kami sedang eksplorasi belajar atau sekedar bermain ingin tahu, berkhayal, kreatif), dan sesama sikap dewasa ketika membahas hal-hal serius, masalah keluarga dan hal-hal visioner.

Sesekali transaksi tersembunyi kalo lagi lowbat. hehe

Berikut materi review dari kelas Bunsay yang saya ikuti:

Review Tantangan 10 Hari
Materi Bunda Sayang #1 :
Institut Ibu Profesional
KOMUNIKASI PRODUKTIF

(Bagian 2)

KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN

Dalam prakteknya ternyata ini menjadi bagian yang sangat seru yang dihadapi oleh teman-teman semua. Karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola komunikasi anda dengan pasangan

yaitu :

a. FAKTOR EKSTEROPSIKIS (Ego sebagai Orangtua)
Yaitu bagian dari kepribadian yg menunjukkan sifat-sifat orang tua, berisi perintah (harus & semestinya). Jika individu merasa dan bertingkah laku sebagaimana orang tuanya dahulu, maka dapat dikatakan bahwa individu tersebut dalam status ego orang tua. Status ego orang tua merupakan suatu kumpulan perasaan, sikap, pola-pola tingkah laku yang mirip dengan bagaimana orang tua individu merasa dan bertingkah laku terhadap dirinya.

Contoh :
Seperti tindakan menasihati orang lain, memberikan hiburan, menguatkan perasaan, memberikan pertimbangan, membantu, melindungi, mendorong untuk berbuat baik adalah sikap yang nurturing parent (NP).

Sebaliknya ada pula sikap orang tua yang suka menghardik, membentuk, menghukum, berprasangka, melarang, semuanya disebut dengan sikap yang critical parent (CP).

b. FAKTOR ARKEOPSIKIS (Ego sebagai anak-anak)
Yaitu bagian dari kepribadian yang menunjukkan ketidakstabilan, reaktif, humor, kreatif, serta inisiatif, masih dalam perkembangan, berubah-ubah, ingin tahu dan sebagainya. Status ego anak berisi perasaan, tingkah laku dan bagaimana berpikir ketika masih kanak-kanak dan berkembang bersama dengan pengalaman semasa kanak-kanak

Contoh :
Dibedakan antara natural child (NC) yang ditunjukkan dalam sikap ingin tahu, berkhayal, kreatif, memberontak. Sebaliknya yang bersifat adapted child (AC) adalah mengeluh, ngambek, suka pamer, dan bermanja diri.

c. FAKTOR NEOPSIKIS (Ego sebagai orang dewasa)
Yaitu bagian dari kepribadian yg objektif, stabil, tidak emosional, rasional, logis, tidak menghakimi, berkerja dengan fakta dan kenyataan-kenyataan, selalu berusaha untuk menggunakan informasi yang tersedia untuk menghasilkan pemecahan yang terbaik dalam pemecahan berbagai masalah.

Dalam status orang dewasa selalu akan berisi hal-hal yang produktif, objektif, tegas, dan efektif dan bertanggung jawab dalam menghadapi kehidupan. Jika individu bertingkah laku sesuai dengan yang telah disebutkan tadi, maka individu tersebut dikatakan dalam status ego dewasa..

Contoh :
Mengambil kesimpulan, keputusan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Suka bertanya, mencari atau menunjukkan fakta-fakta, bersifat rasional dan tidak emosional, bersifat objektif dan sebagainya, adalah ciri-ciri komunikasi orang dewasa.

Ketiga Ego tersebut dimiliki setiap orang, kita lihat dari caranya berkomunikasi, kalimat yang dipilih dan bahasa tubuh yang digunakan.

ANALISIS TRANSAKSIONAL KOMUNIKASI

a. TRANSAKSI KOMPLEMENTER
Jenis transaksi ini merupakan jenis terbaik dalam komunikasi antarpribadi karena terjadi kesamaan makna terhadap pesan yang mereka pertukarkan, pesan yang satu dilengkapi oleh pesan yang lain meskipun dalam jenis sikap ego yang berbeda. Transaksi komplementer terjadi antara dua sikap yang sama, sikap dewasa.

Transaksi terjadi antara dua sikap yang berbeda namun komplementer. Kedua sikap itu adalah sikap orang tua dan sikap anak-anak. Komunikasi antarpribadi dapat dilanjutkan manakala terjadi transaksi yang bersifat komplementer karena di antara mereka dapat memahami pesan yang sama dalam suatu makna.

Contoh :
Ketika suami meminta kita berbicara berdasarkan fakta, maka balas komunikasi tersebut dengan hal-hal yang logis (ego dewasa).

πŸ‘¨Suami: β€œArloji yang biasanya di meja ini, kok tidak ada ya mah?” (menggunakan data dan logika – ego dewasa)
πŸ‘©Istri : β€œAyo kita cari tahu bareng, terakhir ayah lepas arloji itu dimana?” (menggunakan ego dewasa)

b. TRANSAKSI SILANG
Terjadi manakala pesan yang dikirimkan komunikator tidak mendapat respons sewajarnya dari komunikan. Akibat dari transaksi silang adalah terputusnya komunikasi antarpribadi karena kesalahan dalam memberikan makna pesan. Komunikator tidak menghendaki jawaban demikian, terjadi kesalahpahaman sehingga kadang-kadang orang beralih ke tema pembicaraan lain.

Contoh :
Ketika partner kita mengajak komunikasi berdasarkan ego dewasa, kita menanggapinya dengan ego anak-anak.

πŸ‘¨Suami : β€œArloji yang biasanya di meja ini, kok tidak ada ya mah?” (menggunakan data dan logika – ego dewasa)
πŸ‘©Istri : β€œMana kutahu, aku udah capek seharian ngurus anak-anak, masih diminta ngurus arloji” (menggunakan ego anak-anak)

Pasti akan menyulut respon emosi.

c. TRANSAKSI TERSEMBUNYI
Jika terjadi campuran beberapa sikap di antara komunikator dengan komunikan sehingga salah satu sikap menyembunyikan sikap yang lainnya. Sikap tersembunyi ini sebenarnya yang ingin mendapatkan respons tetapi ditanggap lain oleh si penerima.

Bentuk-bentuk transaksi tersembunyi bisa terjadi jika ada 3 atau 4 sikap dasar dari mereka yang terlibat dalam komunikasi antarpribadi namun yang diungkapkan hanya 2 sikap saja sedangkan 1 atau 2 lainnya tersembunyi.

Contoh:
Seorang ibu masuk ke dalam sebuah toko untuk membeli sebuah lemari es. Sang penjual memperlihatkan beberapa merk, dengan menyebutkan harganya. Sang ibu melihat lemari es yang tinggi dan bertanya: β€œBerapa harga yang tinggi itu?” (ungkapan dari ego state dewasa dan mengharapkan respon dari ego state dewasa juga).

Penjual itu kemudian menanggapi: β€œYang itu terlalu mahal bagi Ibu.” Tanggapan ini memang terlihat sebagai transaksi antara ego state dewasa dan dewasa, tetapi ada unsur tersembunyi di dalamnya yang tidak jadi terumuskan, yaitu: β€œIbu tidak mempunyai cukup uang untuk membeli yang mahal itu”.

Kemudian sang ibu merasa tersinggung, dan memang begitulah maksud penjual itu, menyinggung perasaan sang ibu dengan mengatakan bahwa ibu itu tidak mampu membeli lemari es yang mahal.

Menanggapi pernyataan itu, untuk membuktikan bahwa dirinya mampu membeli barang mahal itu, sang ibu lalu berkata: β€œYang tinggi itu mau saya beli!”.

Sumber:
Review Tantangan 10 Hari di grup whatsapp Bunsay #3_Jakarta pada tanggal 21 November 2017 pukul 7.53 AM yang dishare oleh Mbak Arie R. (fasilitator kami).

Semoga bermanfaat. Jika ada kebaikan dari tulisan ini maka datangnya dari Allah, jika ada kesalahan maka itu dari saya, mohon dimaafkan dan diingatkan.

Have a great time…

7 Comments

  1. Nice blog here! Also your website loads up fast! What web host
    are you using? Can I get your affiliate link to your host?
    I wish my site loaded up as fast as yours lol

  2. Right here is the right site for everyone who hopes to find out about this topic.
    You realize so much its almost tough to argue with you (not that I really would want to…HaHa).
    You certainly put a fresh spin on a topic that’s been discussed for many years.
    Wonderful stuff, just great!

  3. Wow that was odd. I just wrote an very long comment but after I clicked submit my comment didn’t appear.
    Grrrr… well I’m not writing all that over again. Anyways, just wanted to say great blog!

    • zielusi Reply

      I don’t know about the comment didn’t appear. Thank you for visiting my blog. πŸ™‚

Write A Comment