Cerdas Finansial
KuliahBundaSayang IIP – Game Level 8
Tantangan #DayKe_6

Dilema Tulang Punggung Keluarga

Sebagai sesama tulang punggung keluarga banyak rencana kami berdua termasuk tabungan untuk kehamilan, investasi pendidikan termasuk untuk bisa melengkapi perabotan primer rumah yang saat ini masih serba minim dan banyak bolongnya akhirnya tertunda dan harus bersabar.

Hehe. Slot kantong itu terambil lagi. Kami tunda beberapa waktu karena kebutuhan keluarga besar sedang meningkat.

Ini bukan hal baru bagi kami. Dulu ketika kami masih tinggal di kos-kosan awal menikah dulu, ketika kami perlu lemari dan alat masak, beberapa kali berhasil menabung tapi tak jadi beli karena tiap kali uangnya kekumpul adaaa aja keperluan keluarga besar mendesak dan memerlukan bantuan dari kami. Alhasil selama 2,5 tahun kami menyimpan baju di dalam tas dan koper.

Hehe. masa-masa perjuangan.

Sekarang Alhamdulillah saat ada rezeki berlebih, sudah hampir dua bulan kami tinggal di sebuah rumah yang jauh lebih nyaman dari kos-an dulu, kami berpikir akan ada sisa banyak sehingga kami bisa mulai menabung lebih leluasa. Eh, ternyata kebutuhan keluarga besar juga ikutan meningkat.

Kalau kata pak suami mah, “Dalam rezeki yang kita dapatkan, Allah menitipkan rezeki juga untuk kedua keluarga besar kita, jadi jangan khawatir, In syaa Allah berkah dan jadi amal yang besar. Semoga Allah menggantinya dengan yang lebih berkah dan besar lagi untuk kita. Aamiin.”

Alhamdulillah, pak suami bukan orang yang pelit atau perhitungan.

Termasuk bulan ini, yang rencananya kami akan membeli dipan tempat tidur juga kursi dan meja makan kami tunda karena adik-adik kami ada yang memerlukan bantuan untuk lamaran dan nikahan, juga ada adik yang mau wisudaan sama-sama memerlukan biaya tambahan. Persis di bulan yang sama.

Sehingga setelah dihitung-hitung metode 10% beramal, 10% menabung, 10% investasi, sisa 70% untuk pengeluaran.  itu benar-benar sulit kami terapkan dan memutuskan untuk menggunakan konsep lain yang angkanya masih kami perhitungkan.

Membantu keluarga besar, kami masukan ke kantong amal yang jumlahnya lebih dari 10% karena ada biaya rutin tiap bulan yang juga kami berikan untuk dua keluarga orang tua kami, di luar itu biasanya ada biaya kondisional seperti kebutuhan adik-adik yang saya sebutkan tadi.

 

Kadang ini melatih kesabaran banget dan berharap rezeki makin banyak, berkah dan melimpah sehingga semua kebutuhan kami pribadi pun bisa terpenuhi. Dan kadang juga khawatir dengan kebutuhan dua keluarga besar kami, yang kian meningkat. Tapi kalau dipikir-pikir kan semua orang sudah ada rezekinya masing-masing. Jalannya bisa lewat mana pun termasuk lewat kami.

Jadi kalau datang saat-saat kami sedih melihat kantong untuk keperluan pribadi kosong dan harus memulai kembali, kami biasanya membayangkan balasannya kelak jika Allah jadikan itu sebagai amal yang Allah terima dari kami, mudah-mudahan jadi penolong besar kelak bagi kami. Aamiin.

Dengan begitu kami biasanya jadi lebih tenang dan bersyukur diberikan kesempatan untuk menolong keluarga besar hingga saat ini. Alhamdulillah.

Kedepannya kami berharap bisa segera merancang dan menjalankan strategi yang lebih efektif dan produktif agar keluarga besar kami bisa lebih mandiri secara finansial. In syaa Allah.

Selamat belajar membuat catatan keuangan…
Have a great day,

Write A Comment