Cerdas Finansial
KuliahBundaSayang IIP – Game Level 8
Tantangan #DayKe_10

Apakah Menabung Dianjurkan dalam Islam?

Karena beberapa hari kemarin pelajaran berharga kami terkait finansial adalah menabung. Dan terinspirasi dari materi IIP disini, kami berencana membuat tabungan yang sangat kami perlu sediakan.

Tabungan itu terdiri dari 3 pos tabungan; Saving (untuk keperluan jangka panjang), Spending (untuk keperluan jangka pendek), dan Sharing (untuk keperluan membantu baik itu saudara atau teman dan lainnya yang sifatnya kondisional).

Nah hari ini, saya mencari-cari informasi terkait tabungan dan saya penasaran apakah menabung dianjurkan dalam Islam? Sejauh mana boleh menabung dalam Islam? Apakah Menabung yang akan kami lakukan termasuk menimbun harta?

Well, saya akan coba kumpulkan beberapa sumber terlebih dahulu :

Rasulullah menyimpan makanan untuk kebutuhan keluarga selama setahun [HR Bukhari no 2904 dan Muslim no 1757].
Syaikh Abdullah alu Bassam ketika menyebutkan kandungan hadits di atas mengatakan,
“Bolehnya menyimpan bahan makanan dan hal tersebut tidaklah bertentangan dengan tawakkal kepada Allah karena Nabi yang merupakan manusia paling hebat dalam masalah tawakkal saja menyimpan bahan makanan untuk persedian kebutuhan keluarganya” [Taisir Allam Syarh Umdatul Ahkam 2/558].
Rasulullah shallallahu’ alaihi wa sallam bersabda :
“Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan uang secara sederhana dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga saat dia miskin dan membutuhkannya.” (HR. Muslim dan Ahmad).
Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin mengatakan,
“menabung untuk antisipasi musibah di kemudian hari tidaklah tercela asalkan kewajiban harta baik zakat atau selainnya telah ditunaikan dengan baik” [Tafsir Juz Amma hal 320].

 

Dengan demikian, jelaslah bahwa Islam membolehkan umatnya untuk menabung.

Adapun mengenai menumpuk harta, benar adanya bahwa ada kaidah yang melarang untuk menumpuk harta dan membiarkannya berputar di kalangan yang mampu saja (Al-Hasyr : 7).

Sehingga jika kita memiliki harta berlebih, boleh pula dialokasikan untuk membiayai atau memodali usaha di sektor riil yang produktif, dimana manfaatnya dirasakan langsung secara luas ke masyarakat.

Namun jika tidak bisa, Islam juga telah menyiapkan mekanismenya, yaitu dipungutnya zakat. Setiap 20 Dinar yang tersimpan setahun, atau Dirham (perak) sebanyak 200 Dirham, maka wajib dikeluarkan zakat mall sebesar 2,5%.

Maka, jelaslah bahwa menabung yang akan kami lakukan, In syaa Allah bukan berarti menimbun harta, melainkan bentuk ikhtiar dan ketawakalan menghadapi kondisi yang sering kali diperlukan dan impian di masa depan yang sudah direncanakan serta telah dihitung keperluannya.

Tetapi, di saat yang sama Islam pun menganjurkan agar memproduktifkan harta yang dimiliki atau mewajibkan membayar zakat mall bila sudah memenuhi persyaratannya. Maka jika tabungan kami kelak sudah memenuhi persyaratan wajib zakat, tentu kami wajib membayar zakat.

Hmm, sebenarnya saya masih ingin mengkaji lebih jauh perihal ini.. karena masih merasa sumber yang saya temukan masih minim karena kendala waktu. Mudah-mudahan besok atau hari lainnya bisa mengkajinya lebih dalam sehingga saya lebih paham dan bisa langsung dipraktikan dan dishare.

 

Selamat belajar membuat strategi keuangan…
Have a great day,

Write A Comment