KuliahBundaSayang IIP – Game Level 10
Tantangan #DayKe_4

Mungkin ada yang pernah mengalami apa yang saya pernah alami. Mungkin. Mungkin juga ada yang tidak pernah merasakannya.

Ketika ada hal besar atau impian yang ingin dicapai eh muncul perasaan serba takut untuk melangkah. Merasa menjadi pecundang dan bukan siapa-siapa. Merasa tak memiliki kompetensi dan meragukan diri sendiri. Merasa serba salah bahkan takut gagal dan menerima penolakan kembali.

Tetiba bejibun perasaan tidak menyenangkan yang pernah dialami di masa lalu bermunculan.

Semua perasaan dan pikiran yang serba pesimis dan negatif begitu kuat menguasai. Semua hal jadi terlihat serba sulit, ingin lebih memilih diam dan menghindar dengan dalih merelakan impian, kemudian mencari alasan lain untuk menghibur diri yang masih terkesan keren.

Semua hal disekeliling jadi terasa hambar dan terlihat serba tak sempurna, memicu bibir untuk berkeluh kesah. Bahagia pun hanya terasa sebentar. Lupa untuk bersyukur dan mengikhlaskan.

Mungkinkah karena saya masih menyimpan sampah-sampah perasaan dari masa lalu yang saya pelihara hingga saat ini? Lalu semua sampah-sampah itu menjadi rantai yang membuat saya tidak berdaya dan kecewa dengan diri sendiri.

Dan ketidakberdayaan tersebut membuat saya selalu melihat dunia dan sekeliling saya ini serba negatif dan tak sempurna hingga sering berkeluh kesah atasnya.

Lalu saya mencoba memvisualisasikan sosok saya sendiri untuk menyelami diri dan mencari jawaban… Saya tuangkan dalam sebuah dongeng singkat.

Kebahagiaan & Gadis Pembawa Batu kesedihan

Ada seorang gadis yang begitu bertalenta. Dia seorang yang cerdas dan periang. Penuh rasa ingin tahu dan tangguh. Selalu ingin belajar dan berpetualang untuk mendapatkan jawaban. Sejauh apa pun dia cari. Meski mendaki gunung dan melewati lembah dia jalani. Untuk kemampuan menjalani hidup katanya.

Namun petualangannya tak selalu berjalan mulus dan menyenangkan. Tak jarang dia mendapat penolakan, direndahkan bahkan perlakuan kasar. Sekali dua kali dia abaikan dan kembali riang. Tiga empat kali dia tahan, ah tidak seberapa. Lima enam kali, dia mulai sedih tapi sebentar. Tujuh, delapan, sembilan, sepuluh hingga belasan kali dan lebih dia mulai menghitung perasaannya yang terluka dengan batu.

Dia namai batu itu satu persatu setiap ia terluka. Dia bawa kemanapun batu-batu kesedihan itu. Ada yang ia namai: sedih, kecewa, sendirian, diabaikan, ditolak, dikucilkan, ditipu, dibodohi, direndahkan, disingkirkan, tidak diakui, dipermalukan, dikhianati, dijauhi, disalahkan, difitnah dan lain sebagainya..

Batuan itu semakin banyak dari hari ke hari, hingga ia tumbuh dewasa. Batuan itu terus menumpuk dan masih ia pikul kemana pun ia berpetualang. Ia gendong dengan selembar kain besar yang ukurannya 7 kali lipat dari badannya sendiri. Hingga akhirnya tiba di sebuah gunung yang sedari kecil ia mimpikan untuk didaki.

Konon di atas gunung itu ada sebuah desa yang sangat asri dan indah yang hanya dihuni oleh orang-orang yang bijaksana dan katanya banyak guru yang mengajarkan ilmu kehidupan dengan sabar disana. Desa itu disebut taman firdaus. Ini yang selama ini dia cari. Sekarang di depan mata. Tapi….

Setiap kali ia menaiki tangga di kaki gunung.. dia terjatuh.. bebatuan yang ia pikul pun jatuh kemudian dia pungut kembali.

“Oh, teman-teman setiaku terjatuh, kalian menemaniku hingga sejauh ini, aku tidak bisa meninggalkan kalian disini. Kalian yang menguatkanku.” gumamnya sambil memungut batu perasaannya satu persatu

“Ah, ini karena jalannya sudah jelek. Sepatuku sudah rusak, kain untuk bebatuan juga sudah rapuh, aku jadi sulit mendaki.” Si gadis mulai mengutuki semua hal yang bisa dia kutuki termasuk dirinya sendiri yang menurutnya tak kompeten dan payah.

Dia terus mencoba mendaki namun rupanya dia selalu berhenti di tangga ke lima kemudian jatuh, terus begitu hingga berulang kali. Hingga ia lelah dan berhenti dibawah pohon, duduk dan meletakan batu-batu kesedihan itu dihadapannya. Dia berpikir, apakah sebaiknya ia menyerah tak usah ke desa di gunung itu. Apakah aku sebaiknya merelakan impianku kesana?

Namun tiba-tiba dia kaget karena melihat ada sosok kecil disampingnya yang tersenyum..

“Kamu lelah ya? Boleh aku temani?” tanya sosok kecil yang tersenyum itu.

“Ka ka kamu siapa? Sejak kapan kamu disini? Kamu mengikuti saya ya?” tanya si gadis sambil ketakutan

Lalu sosok kecil yang masih senyum itu menjawab; “lho, sejak kecil aku menemanimu hingga sekarang. Apakah kamu tidak sadar dengan kehadiranku selama ini? Mungkin karena kamu terlalu sibuk dengan batu-batu perasaanmu yang terus kamu kumpulkan itu”

“hmmm??” si gadis kaget dan terdiam sambil mengingat-ingat sosok kecil ini. Apa benar selama ini dia menemaninya.

Lalu si gadis diam seribu bahasa ketika dia baru teringat bahwa dahulu karena sosok kecil yang senyum inilah ia mulai menyukai belajar dan menemukan keberanian untuk berpetualang. Sosok itu menamakan dirinya Kebahagiaan.

“a.. aa apakah kamu si Kebahagiaan yang mengajakku belajar dan berpetualang itu?” tanya si gadis dengan gemetar

“Iyaaa… benaar! yeah! kamu mengingatku.. kamu mengingatku lagiii…” sorak sosok kecil sambil meloncat bahagia.

Si gadis mulai merasa malu dan sedih, kenapa selama ini dia melupakan si sosok kecil ini, mengapa dia lupa akan kehadirannya yang selalu menemani dia selama ini. Malu karena terlalu sibuk dengan bebatuan perasaannya.

“Maafkan aku.. aku mengabaikanmu selama ini. Aku terlalu fokus dengan bebatuan kesedihanku.”

“Tidak apa-apa. Aku senang menemanimu hingga sejauh ini. Tapi kurasa kamu tidak akan bisa menuju desa digunung itu dengan membawa mereka. Maukah aku bantu membuang bebatuanmu itu?” tanya si Kebahagiaan

“Hmmm?” si gadis kaget dan tertegun

“Pundak dan punggungmu pasti lelah dan sakit memikul mereka bertahun-tahun hingga di kaki gunung ini. Sudah saatnya pundakmu bergerak bebas seperti dahulu saat bertemu denganku. Kita berpegangan tangan dan berpetualang dengan riang” Jawab si kebahagiaan.

lalu si Kebahagiaan melanjutkan: “Kurasa kehadiran mereka sudah cukup menemanimu sejauh ini hingga dikaki gunung ini saja. Dan sebenarnya tugas mereka sudah selesai saat kamu menamai mereka. Biarkan dan relakan mereka kembali ke tempatnya. Dan sekarang beri aku kesempatan untuk menemani dan menyemangatimu lagi. Aku ingin menemanimu mendaki gunung ini. Bolehkah?” lalu si Kebahagiaan mengulurkan tangan dan menunggu jawaban si gadis.

……………..

Kalau kamu jadi si gadis, kamu mau jawab apa? 😀

 

Selamat Belajar Mendongeng…
Have a great day,

Write A Comment